| |
|
Pilihlah
sekolah dengan baik dan benar, jangan sampai salah memilih...
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Kepada Bapak dan Ibu yang kami hormati, berikut ini ada artikel bagus
tentang bagaimana memilih Sekolah. Insya Allah dengan membaca artikel ini
dapat menjadi pencerahan Bapak dan Ibu dalam memilih sekolah yang terbaik
untuk anak-anaknya.
Masalah
utama dengan sekolah swasta adalah tujuannya. Kebanyakan sekolah adalah
bisnis yang dibangun oleh pengusaha yang tidak memiliki latar belakang
pendikikan. Pada saat mereka mendirikan sekolah, mereka melihat bahwa orang
lain sudah mendirikan sekolah dan menghasilkan profit besar, sampai ada yang
membuat franchise sekolah (bukan cabang). Dengan demikian, sekolah menjadi
sama dengan Starbucks atau Breadtalk: hanya sebuah bisnis yang menghasilkan
profit bagi pemiliknya. diutamakan adalah profit untuk yayasan dan bukan
kualitas guru atau kualitas pendidikan. Karena stok murid besar, sekolah
bisa cuek pada kualitas sekolah dan tetap ada orang tua baru yang mau bayar
mahal untuk daftarkan anaknya pada tahun berikut.
Yang sering terjadi, yang menjadi guru bukan orang yang kuliah pendidikan (lulusan
IKIP, misalnya) tetapi orang mana saja yang bisa berbahasa Inggris karena
ini yang dijual kepada orang tua: "Kita sekolah bilingual lho!" Saya pernah
menemukan orang dengan gelar ekonomi, akutansi, finance, psikologi, hukum,
sastra, linguistik, dan lain lain yang bekerja sebagai guru di sekolah
swasta. Bahkan ada seorang apoteker. Saya bertanya kenapa dia bisa masuk
sekolah, dia menjawab karena tidak ada pekerjaan lain, dan karena dia bisa
berbahasa Inggris. Ini merupakan kegagalan sekolah untuk mendapatkan ahli
pendidikan yang profesional.
Guru anak
itu membuat ibunya stres karena selalu mengeluh bahwa si anak "tidak bisa
menulis dengan rapi". Pada umur 5,5 tahun tidak ada kewajiban untuk menulis
dengan rapi!!! Seharusnya guru senang bahwa seorang anak laki-laki mau
menulis daripada lari-lari terus. Ini sangat aneh. Pada umur ini, kemampuan
motorik halus sedang berkembang. Sangat gila mewajibkan anak menulis dengan
rapi pada umur ini. Dan seharusnya hal ini tidak menjadi salah satu hal yang
dicermati guru, apalagi mengeluh kepada orang tua. Pada umur 7-9 keatas,
baru perlu dicermati.
Dan kalau kita jujur, apakah tulisan tangan yang rapi pernah ada pengaruh
besar di dunia? Contoh: "Maaf, Mr. Einstein, Piagam Nobel anda harus
dikembalikan karena anda menulis E = MC2 dengan tulisan yang tidak rapi.
Maaf ya!" Konyol benar! Para dokter di dunia terkenal dengan tulisan tangan
yang tidak rapi. Apakah seharusnya tidak boleh menjadi dokter sampai bisa
menulis dengan rapi?
Anak saya melapor kepada saya bahwa di sekolah dia main dengan Lego juga (karena
saya belikan dia Lego) tapi Legonya besar, bukan dengan batu-batu kecil
seperti yang saya belikan. Tanpa melihatnya, saya tahu Lego yang dia
maksudkan: Lego besar untuk anak berumur 2-4 tahun. Baca saja di kotaknya (ada
batas umur). Berarti, Lego yang dia dapat di sekolah adalah mainan untuk
anak balita berumur 2-4 tahun, padahal umur dia 5,5 tahun. Berarti yang beli
mainan untuk anak di sekolah itu tidak mengerti mainan yang mana yang cocok
dengan umur anak, dan dia tidak mengerti kenapa Lego kecil lebih bermanfaat
dari Lego besar pada umur ini: untuk melatihkan skil motorik halus yang juga
digunakan untuk menulis!!! Kalau sekolah menuntut tulisan yang rapi, coba
berikan mainan yang cocok dulu!
Saya juga dengar bahwa untuk masuk SD ada tes membaca dan menulis. Kalau
tidak bisa membaca dan menulis, maka tidak bisa atau susah masuk (harus
bayar lebih mahal kali?). Bukannya sekolah itu tempat belajar? Buat apa kita
kirim anak ke SD kalau SD menuntut anak2 mendapatkan skil membaca dan
menulis di luar sekolah? Kalau memang diajarkan di sekolah, kenapa harus
dites untuk masuk? Kalau tidak diajarkan, emang siapa yang bertanggung jawab
untuk mengajarkannya?
Bagaimana kalau rumah sakit ikut-ikutan menerapkan teori seperti ini: mau
masuk rumah sakit, tes kesehatan dulu. Kalau ternyata tidak sehat, disuruh
pulang dulu dan kembali kalau sudah sehat. Gila benar!!
Bukannya masuk RS untuk menjadi sehat? Dan bukannya kita kirim anak ke SD
untuk belajar membaca dan menulis? Kok sekolah bisa mewajibkan anak mendapat
skil itu di lain tempat sebelum masuk?? Sungguh tidak masuk akal!
Pada saat saya diundang untuk menjadi juri di sebuah Lomba Bahasa Inggris ,
anak2 memikirkan diri sendiri dan bukan lomba untuk kepentingan pendidikan
anak.
Saat saya kunjungi suatu sekolah, saya kaget melihat bahwa papan putih
ditempatkan di atas jendela. Kalau tutup pintu, kelas menjadi seperti gua,
dan harus nyalakan lampu. Saya bertanya kenapa:
katanya karena setiap kali ada orang yang lewat, anak tengok kebelakang.
Jadi jendela harus ditutup. Ini kegagalan guru untuk mengendalikan anak
(classroom management). Seharusnya, seorang guru profesional sudah tahu trik
untuk membujuk anak fokus ke depan, dan tidak lihat ke belakang.
[Satu Contoh: "PR malam ini tidak ada anak-anak, tapi kalau ada yang melihat
ke belakang pada saat orang lewat, PR menjadi 1 halaman. Kalau terjadi lagi,
2 halaman, dan seterusnya. Tapi kalau kalian baik selama 30 minit, dan
konsentrasi, 1 halaman dihapus, dan dihapus lagi sampai menjadi
nol. Kalau kamu mau kerjakan PR, silahkan lihat ke belakang terus. Kalau
tidak mau PR, lihat ke depan. Silahkan pilih sendiri."]
Selain dari masalah itu (kegagalan managemen kelas), juga makan biaya untuk
listrik. Dan juga, cahaya matahari adalah suatu zat yang penting untuk
perkembangan dan kesehatan anak. Juga ada pengaruh psikologis bagi
anak bisa merasa "terkurung" di dalam sebuah kelas yang gelap. Cahaya
alamiah adalah hal yang baik yang seharusnya ditambahkan bukan dikurangi.
Saat
mengunjung sekolah lain saya kaget melihat batang2 kayu di belakang sekolah
dengan paku bangunan berdiri di tengahnya, seperti kayunya berduri. Ada
tumpukan kayu (mungkin 70-100 batang) semuanya dengan paku yang berkaratan.
Di depannya, 8 anak lari-lari main bulu tangkis tanpa memakai sepatu. Kalau
ada yang injak ke samping, kaki akan kena. Kalau ada yang terdorong ke
samping, kaki, paha, perut, dada, tangan dan mata bisa kena paku sekaligus.
Saya panggil seorang pengurus karena melihat itu sebagai sesuatu yang
berbahaya sekali. Seharusnya kayu itu tidak ada di sekolah. Komentar dia: "Wah,
anak2 seharusnya tidak berada di situ. Kok pintu tidak dikunci." Itu saja.
Seharusnya kayu itu disingkirkan, atau ditutup, dan pintu ke belakang harus
dikunci dan dicek setiap jam, dan seharusnya ada pengumuman di pintu yang
melarang anak2 ke belakang dengan menyebutkan sangsi bila melanggar.
Tidak ada Kesenian. Tidak ada Olahraga. Tidak ada Ekskul.
Saya bertanya kenapa?
Katanya: 1) tidak ada waktu lagi. 2) Kesenian tidak perlu. 3) Olahraga:
mereka bisa main bola
dengan teman2 setelah sekolah.
Luar biasa.
Kesenian: melatihkan motorik halus dengan menggambar, melukis, dsb.
Melatihkan koordinasi tangan dan mata. Mempelajari warna dan campuran warna.
Tidak semua orang menjadi ustdat, ada yang menjadi designer, berarti warna
dan skil untuk membuat kombinasi warna perlu. Dari kebiasaan
menggambar, ada yang menjadi artis, arsitek, designer, dan bahkan insinyur:
rata-rata, insinyur membuat gambar mobil dulu dan dari itu lari ke Autocad,
membuat design, lalu membuatnya secara nyata. Kalau anak2 main dengan warna,
ketahuan kalau ada anak yang sering bermasalah dengan warna: salah pilih
atau salah menyebutkan. Bisa jadi ada masalah dengan matanya, atau dia buta
warna. Lebih cepat terdeteksi, lebih baik.
Olahraga: dengan lari-lari dan bermain, kelihatan perkembangan motorik kasar,
dan koordinasi tangan dan mata. Anak yang sering jatuh bisa ada masalah
dengan telinga dalam (keseimbangan) , atau dengan matanya (minus, silinder).
Masalah dengan mata penting untuk terdeteksi dengan cepat karena bisa
menggangu pelajarannya. Anak tidak tahu bahwa matanya bermasalah. Dia
menanggap semua orang "melihat" seperti itu, jadi dia tidak akan komplain
bahwa tulisan guru samar-samar.
Dengan main game di luar, anak belajar untuk membagi, berkompetisi, berlomba,
menerima kekalahan dengan lapang dada, menang tanpa menjadi sombong, bekerja
di dalam tim, bernegosiasi, bekerja cepat, berfikir cepat, ambil keputusan
dengan cepat, dsb.
Pemantauan
seperti ini termasuk apa yang dikerjakan guru profesional, beda halnya
dengan seorang lulusan ekonomi yang bisa bahasa Inggris dan menjadi "guru".
Saya pernah memberi tes bahasa Inggris kepada 100 anak SD dan dari 100 anak
itu, saya menemukan satu anak yang bermasalah: dia tidak mau memandang mata
saya. Mungkin orang lain (seperti si lulusan ekonomi) hanya akan mengatakan
bahwa dia seorang pemalu dan melupakannya. Tetapi saya langsung telfon
bapaknya. Dia menyatakan bahwa setelah saya berkomentar begitu, dia baru
sadar bahwa anaknya memang suka begitu dengan orang lain (selain orang tua).
Berarti bukan diri saya (sebagai bule) yang membuat dia takut/malu. Dia
memang tidak suka memandang mata orang dewasa. Saya hubungi seorang psikolog
dan minta anak ini diobservasi. Tidak memandang mata orang lain bisa berarti
dia malu sekali, dan juga merupakan salah satu gejala Autis dan Asperger
Syndrome (tipe Autis juga).
Dari
melihat anak itu dan setelah bertanya2 kepada bapaknya, saya menduga bahwa
anak itu menderita dari Asperger Syndrome yang sangat ringan sehingga hanya
ada satu gejala yang tampak: tidak suka memandang mata orang yang tidak
dikenal! Untuk mengetahui kalau ada gejala yang lain, perlu dianalisa secara
lengkap oleh seorang ahli. Saya serahkan kepada psikolog untuk melakukan
diagnosis secara profesional.
Kalau saya bukan seorang guru, dan kalau saya tidak belajar tentang gejala
penyakit yang diderita anak, dan kalau saya tidak memilih untuk melakukan
investigasi (padahal tidak ada yang mewajibkan saya begitu), maka anak itu
belum tentu terdeteksi sebagai penderita AS sampai umurnya sudah terlalu tua.
Untuk masalah seperti itu, lebih cepat ditangani, lebih baik hasilnya,
terutama dari sisi pendidikan. Seringkali, anak sudah besar, dan nilai
sekolah makin buruk terus, baru ketahuan ada masalah yang mengganggu proses
belajarnya.
Ada seorang teman yang memberitahu saya bahwa di sekolah dia ada guru yang
menutup mulut anak TK dengan lakban (duct tape) karena... anak itu bicara
terlalu banyak! Masa? Anak TK suka bicara? Dari kapan anak TK menjadi senang
"bicara" di kelas? Bukannya semua duduk diam dan selalu nurut dengan gurunya?
Ampun!!!!
Setelah diperiksa, inilah salah satu guru itu yang bukan guru, tapi orang
Indonesia yang bisa bahasa Inggris, karena ini sekolah "Bilingual". Selamat
kepada pemilik sekolah.
Saat saya periksa sebuah sekolah di Jakarta Timur (saya lupa namanya) saya
mengecek perpustakaan. Buku tidak banyak tapi cukuplah. Saya mengambil satu:
Pertama pada lomba... dst." Dan semua buku itu menjadi sumbangan buat
perpustakaan sekolah. Setiap kali ada yang pinjam buku itu, kelihatan nama
si Budi di depan. Bukan saja dia menjadi pemenang lomba, tapi juga dermawan
yang membantu membangun sekolah dan masa depan adik kelas!! Bukanlah itu
lebih baik dan lebih bermanfaat daripada setiap anak yang lulus SD mendapat
sekotak piagam murahan yang sudah pecah atah plastiknya rusak dan perlu
disimpan atau dibuang?
Saat saya kunjungi Sekolah Alam, saya menjadi kaget melihat tempat yang
begitu berbahaya, saya heran ada orang tua yang mau masukkan anaknya ke sana.
Di belakang sekolah ada jurang tanpa pagar di atas. Pada saat saya ada di
sana, seorang anak mengejar bola dan berhenti sekitar 2 meter dari pinggir
jurang itu.
Perlu
dipahami bahwa anak kecil tidak bisa mengukur jarak karena matanya dan
persepsi jaraknya masih berkembang. Oleh karena itu, anak sering jedot
kepala di meja makan karena dia tidak bisa melihat ujung meja yang menonjol
itu. Menurut mata, masih jauh. Lalu jedot. Kalau ada jurang tanpa pagar, dan
dia sedang lari mengejar bola, mata dia menyatakan jurang masih jauh maka
dia kejar bola terus. Lalu tergelincir. Juga benar bahwa anak belum pintar
mempertimbangkan risiko seperti orang dewasa. Orang dewasa melihat jalan
yang ramai dan menyeberang dengan hati-hati. Anak melihat jalan dan
melintas saja karena bahayanya tidak langsung masuk pikirannya.
Jalan masuk sekolah itu dibuat dari batu kali yang bulat dengan ukuran 5-15
senti. Jalan tidak datar dan kita harus berjalan dengan pelan dan hati-hati.
Saya yang dewasa hampir kena kaki terseleoh karena kaki saya injak batu
besar dan tergelincir ke samping. Buat apa batu itu?
Pagar di sebelah jalan itu dibuat dari kayu bambu yang bagian atasnya
ditajamkan, menjadi berbentuk seperti panah. (Tidak ada alasan untuk
ditajamkan begitu). Tingginya sekitar 50-60 senti. Saya bisa bayangkan
seorang anak mendorong temannya, dan pada saat dia jatuh ke atas pagar
itu, dadanya bisa ketusuk.
Ada seekor
rusa di dalam kandang. Tembok kandang dibuat dari kawat ayam. Karena
mengunakan kawat ayam yang kurang panjang, dua lapis diikat sehingga ada
bagian atas dan bagian bawah dengan ikatan di tengah. Ikatan juga
menggunakan kawat yang kuat, tetapi tidak diikat dengan rapi. Ada banyak
bagian yang menonjol keluar sekitar 10-15 senti. Artinya, tembok kandang itu
menjadi "berduri" karena ujung2 kawat yang menonjol. Kalau ada anak lari ke
sana, dan mendorong temannya, pada saat anak itu hajar kawat ayam, dia bisa
ditusuk oleh kawat yang menonjol. Tingginya duri kawat itu sekitar 1 meter
dari tanah, atau setinggi mata anak. Kalau mata anak ketusuk, orang tua
tidak bisa beli yang baru di Supermaket atau di Mall.
Artinya semua ini, Sekolah Alam ini penuh dengan hal-hal yang berbahaya
untuk anak. Di Australia, tempat seperti ini tidak akan mendapat izin
menjadi sekolah. Untuk membangun sekolah, keamanan dan keselamatan adalah
nomor satu. Selalu. Bayangkan kalau anda terima telfon seperti ini:
"Maaf, Ibu. Anak anda menjadi buta karena matanya ketusuk kawat saat dia
main di samping pagar... tapi nilai bahasa Inggrisnya tinggi. Bagus kan?"
Kalau anak berada di dalam keadaan yang berbahaya, apakah mungkin orang
tua tidak akan peduli karena kurikulum di sekolah itu bagus?
Saya membaca sebuah koran, saya membaca suatu pernyataan yang paling konyol
yang pernah saya baca berkaitan dengan pendidikan. Kata Pengurus (seingat
saya) "Kalau anak mau belajar tentang daun, maka dia harus memegang daun.
Berarti harus ada hutan di depan sekolah."
Masa? Kalau teori pendidikan ini benar, coba kalau kita kembangkan:
Kalau anak mau belajar tentang buaya, mereka harus memegang buaya.
"Nah, Budi, yang sendang gigit kaki kamu itu, namanya buaya! Lihat giginya
yang besar. Jangan teriak. Kamu masih punya kaki satu lagi."
kebakaran (karena
gedung dibuat dari kayu) tapi tidak menemukannya (mungkin ada, tapi disimpan
supaya tidak kelihatan). Tapi karena tidak ada kaca di jendela, anak bisa
loncat keluar dari kelas dengan mudah kalau terjadi kebakaran.
Intinya, orang yang membangun sekolah ini seakan-akan inginkan anak kembali
hidup di tengah hutan seperti orang Mentawai. Saya bingung tentang kenapa
ini menjadi idaman orang tua dan pemilik sekolah.
Sudah berkali-kali saya mengunjungi sebuah sekolah di DKI dan minta melihat
kurikulum. Sering kali, kepala sekolah sulit menemukannya karena tidak tahu
ada di mana. Lebih parah, sering ada yang menyatakan "Kita sedang menulisnya".
Dan "Kita" di sini adalah kepala sekolah dan para guru yang tidak mempunyai
latar belakang pendidikan. Pernah ada kepala sekolah menyatakan kepada saya:
"Kita sudah membuat kurikulum untuk 6 bulan ke depan."
Coba kita aplikasikan logika ini pada tempat yang lain: Kita naik bis dan
pengemudi menyatakan "Saya ada peta untuk 6 kilo ke depan. Sisanya akan
saya tulis dalam perjalanan kita ke Bali." Apakah anda mau naik bis itu?
Yakin bisa sampai ke tujuan?
Kalau kurikulum tidak dibuat dari K-6 dari awal sekolah, dan hanya 6 bulan
di depan murid, bagaimana kalau sampai ke Kelas 6 dan para guru baru sadar
ada banyak yang belum sempat diajarkan? Dari ilmu 100%, baru 60% yang
diajarkan dari K-5. Apakah 40% yang tersisa bisa diberikan dalam 1 tahun
terakhir? Seperti apa kelasnya nanti?
Kayanya ada banyak sekolah seperti ini, dan mayoritas dari orang tua tidak
sadar bahwa sekolah tanpa kurikulum adalah masalah besar.
Ada sebuah sekolah yang mendapat "guru bahasa" dari negara Inggris untuk
menyusun program bahasanya. Masalahnya adalah di Inggris dia bekerja sebagai
DJ (Disc Jockey) di sebuah klub malam, tidak ada latar belakang pendidikan,
dan juga tidak lulus kuliah. Program bahasa yang dia susun itu diambil dari
Amerika. Setelah diselidiki, ternyata program itu diciptakan untuk anak di
Amerika yang cacat mental dan sama sekali tidak cocok untuk mengajar bahasa
di sekolah di Indonesia.
Tetapi orang tua datang ke sekolah ("Kita sekolah bilingual lho!") dan
melihat bule, jadi mereka itu.
Semua masalah yang disampaikan di atas bisa diatasi. Tapi karena pemilik
sekolah tidak mengerti pendidikan, hal seperti ini dianggap masalah kecil
dan bukan utama. Dan sayangnya, orang tua tidak sadar bahwa sekolah anak
mereka adalah tempat yang tidak ideal.
"Selamat datang dia dunia pendidikan swasta !!" Mohon diingat bahwa saya
tidak membuat artikel ini dengan niat menjelekkan nama sekolah yang saya
sebutkan di atas. Tetapi sebagai seorang guru, saya merasa ada tanggung
jawab untuk menyampaikan kritikan sekolah kepada para orang tua secara jujur.
Kalau guru dari salah satu sekolah tersebut membaca artikel ini, mungkin dia
tersinggung karena merasa sekolah dia oke-oke saja. Dan perlu dipahami,
bahwa saya membandingkan sekolah di atas dengan sekolah ideal yang teratur
secara baik. Insya Allah pada suatu saat semua sekolah negeri di Indonesia
bisa berubah menjadi sekolah ideal, dan sekolah swasta bisa dijaga secara
ketat supaya tidak bisa menyimpang.
Masih ada banyak hal lain yang bisa saya sampaikan, tapi saya rasa sudah
cukup untuk saat ini. Siapa saja boleh hubungi saya di
genenetto@gmail.com bila masih ada
pertanyaan tentang pendidikan.

|
|
|